Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)

OPEC Tidak Ubah Produksi Meski Musibah Minyak di Teluk Meksiko

Organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) mengakui bahwa, tidak akan mengubah kebijakan produksi minyak meski terjadi musibah tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Hal ini disebabkan negara “produsen” masih merasa nyaman dengan harga minyak saat ini.

Dikatakan oleh Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla Salem El-Badri di Brussel, dirinya tidak melihat akan adanya perubahan produksi sebelum OPEC bertemu pada Oktober mendatang.

Saat ini rata-rata produksi minyak mentah dunia mencapai 86 juta barel per hari. OPEC juga menegaskan, meskipun korban akibat tumpahan minyak mentah di Teluk Meksiko telah menyebabkan citra buruk bagi BP, produsen minyak asal Inggris itu masih jauh dari kebangkrutan.

Pekan lalu, harga saham BP jatuh level terendah dalam 14 tahun setelah perusahaan itu menambah biaya penanganan tumpahan menjadi USD2,35 miliar.BP menyatakan telah mengeluarkan dana USD2,65 miliar dalam upaya mengatasi tumpahan minyak di Teluk Meksiko.Menurut BP, dana tersebut kemungkinan bisa bertambah lagi.

Sebelumnya Pemerintah AS memerintahkan BP untuk mengeluarkan biaya sekitar USD20 miliar untuk mengatasi musibah tumpahan minyak yang telah menewaskan 11 pekerja itu. Meski mendapat tekanan dari Pemerintah AS,posisi BP didukung oleh dua peminpin negara yakni Presiden AS Barack Obama dan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Keduanya Sabtu (26/6) lalu menyatakan setuju bahwa BP harus tetap menjadi perusahaan kuat dan stabil. Sementara pada perdagangan di Asia kemarin, harga minyak mentah jenis light sweet dunia berada pada level USD78,64 per barel atau turun 22 sen dibanding penutupan pekan lalu.Sedangkan jenis brent melemah 11 sen menjadi USD78,01 per barel.

Menurut analis, turunnya harga minyak dunia disebabkan adanya laporan terbaru Pusat Bencana Nasional AS NHC yang menyatakan telah terjadi badai yang mengarah ke barat daya Teluk. Badai yang disebut Alex itu diiringi hujan lebat di semenanjung Yucatan dan menewaskan sedikitnya 10 orang di Nikaragua, Guatemala, dan El Salvador.

Suryo Saputro ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )
Foto : ssqq.com