Harga minyak diprediksi turun tahun ini
Oleh: Berliana Elisabeth S.
JAKARTA (Bisnis.com): Sejumlah kalangan menurunkan proyeksi harga minyak mentah untuk tahun ini dan tahun depan setelah melihat ketidakpastian pemulihan ekonomi, khususnya krisis utang di Eropa dan pengetatan kredit di China.
Departemen Energi AS melalui Energy Information Administration (EIA) menurunkan proyeksi rata-rata harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan, masing-masing turun US$3 per barel, yakni menjadi US$78,75 per barel pada 2010 dari proyeksi sebelumnya US$82,18. Untuk tahun depan menjadi US$82,50 dari sebelumnya US$85,50.
Dalam situs resminya disebutkan rata-rata harga minyak mentah pada tahun ini masih lebih tinggi US$27,7 per barel dibandingkan dengan harga tahun lalu yakni rata-rata di level US$61,66 per barel.
Sebulan lalu harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI), jenis minyak yang diperdagangkan di New York Mercantile Exchange dan harganya menjadi patokan internasional, terpangkas dari level tertingginya US$86 per barel pada 3 Mei menjadi terendah US$65 pad 25 Mei, dan pada akhir bulan ditutup pada level US$74 per barel.
Menurut EIA, ketidakpastian akan pemulihan ekonomi global khususnya krisis utang di Eropa dan pengetatan kredit di China, sudah memangkas harga minyak mentah sepanjang Mei 2010. Selain itu, penurunan harga disebabkan persediaan yang tercatat hingga rekor tertinggi di Cushing Oklahoma, AS.
Selain menurunkan proyeksi harga, Departemen Energi AS juga memangkas proyeksi konsumsi minyak mentah tahun ini menjadi 85,51 juta barel per hari dari 85,55 juta barel dari proyeksi sebelumnya.
Menteri Perminyakan Kuwait Ahmad Al-Sabah seperti dikutip Bloomberg mengatakan harga akan berada pada rata-rata di level US$70 per barel pada akhir tahun. Menurut dia, level harga saat ini masih bisa diterima. Kuwait merupakan negara produsen terbesar ketiga di antara anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) setelah Arab Saudi dan Iran.
Harga minyak mentah di New York sudah terpangkas 14% pada bulan lalu, penurunan terbesar dalam satu setengah tahun dipicu krisis utang di beberapa negara Eropa seperti Yunani dan Portugal yang memengaruhi pemulihan ekonomi global.
Ekonom Senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan memproyeksikan harga minyak mentah pada kuartal II/2010 dan kuartal III/2010 sebesar US$84 per barel dan pada kuartal IV/2010 menjadi US$88 per barel.
Societe Generale SA juga memangkas proyeksi harga minyak mentah WTI dan minyak brent untuk 2011 karena pasokan yang lebih tinggi dari perkiraan dan berkurangnya pertumbuhan konsumsi.
Head of Oil Research Societe General Michael Wittner mengatakan harga rata-rata minyak WTI New York akan di level US$892,30 per barel dari proyeksi sebelumnya US$101, menjadi US$91,80 per barel dari sebelumnya US$100,25.
"Pemangkasan proyeksi harga ini karena pasokan dari OPEC lebih banyak dari perkiraan, persediaan di laut lepas untuk kuartal pertama tahun ini dan April, serta posisi saat ini, berada di level tertinggi," kata Wittner.
Kenaikan produksi dari Rusia dan Meksiko juga turut mendorong meningkatnya pasokan dari negara-negara di luar anggota OPEC yakni naik 1% tahun ini menjadi rata-rata 52 juta barel per hari.
Sociate menyatakan dalam jangka panjang, harga minyak mentah berpotensi naik kembali untuk antisipasi dari inflasi. Harga untuk 2014 diproyeksikan sebesar US$110 per barel dan untuk 2015 menjadi US$114 per barel.
"Pada kuartal keempat tahun ini hingga tahun depan, kami perkirakan investor melepas kontrak minyak, namun sebagai keseimbangannya, minyak dan komiditas lainnya bertumbuh di negara pasar berkembang (emerging market) untuk mengantisipasi tekanan inflasi jangka menengah," kata Wittner.
Harga minyak mentah pada perdagangan Rabu naik untuk kedua harinya dipicu meningkatnya data bisnis di AS. Untuk kontrak pengiriman Juli, harga minyak WTI naik 1% menjadi US$72,70 per barel di system elektronik New York Mercantile Exchange, dan US$72,47 di Singapura.
"Terlihat sejumlah optimisme setelah keluarnya sejumlah data ekonomi khususnya dari," kata ekonom mineral dan energy National Australia Bank Ltd Ben Westmore.
Harga minyak naik dalam dua hari ini setelah Gubernur Federal Reserve Ben S. Bernanke menyatakan perekonomian AS bertumbuh secara moderat. Indeks saham di Wall Street AS, yakni salah satunya indeks Standard & Poor’s 500 juga naik 1,1% dalam dua hari setelah turun hingga level terendah sejak Maret 2009. (bisnis.com)
Last Updated (Wednesday, 09 June 2010 16:35)




